Apakah Orang Katolik Boleh Menikah Beda Agama?

Bagi kamu orang katolik yang sampai ke website ini, pasti lagi dilema kan dengan menikah beda agama atau tidak?

Mau lanjut, eh terhalang restu orang tua karena beda agama. Mau udahan, tapi masih sayang.

Sebelum saya menjawab apakah orang Katolik boleh menikah beda agama atau tidak, mari kita simak penjelasan berikut.

Pengertian

Gereja Katolik mengenal 7 Sakramen. Salah satunya adalah sakramen perkawinan.

Sakramen perkawinan menitik beratkan pada persekutuan dan perutusan. Apa yang dimaksud persekutuan dan perutusan?

Setiap orang Katolik yang telah dibaptis dan memutuskan untuk menikah, memiliki tugas untuk menyelamatkan orang lain, diri sendiri, dan membangun umat Allah (Bdk. KGK 1534).

Mengapa seperti itu?

Karena perjanjian perkawinan memiliki sifat kodrati yang terarah pada kesejahteraan suami-istri serta pada kelahiran dan pendidikan anak (bdk. KGK 1601).

Jadi, seorang Katolik yang ingin menikah wajib mempersiapkan diri sebaik mungkin karena akan menjadi tugas baru dalam hidupnya untuk membina hubungan baik dengan pasangan juga mendidik anak.

Baca juga: 8 Jenis dan Makna Pakaian Imam Dalam Gereja Katolik

Pernikahan Beda Gereja

Lalu, apakah katolik boleh menikah beda gereja?

Perkawinan beda agama (kawin campur) dalam Gereja Katolik harus dibedakan menjadi 2.

Pertama, seorang Katolik menikah dengan orang Kristen non-Katolik. Pernikahan ini disebut dengan pernikahan campur beda gereja.

Pernikahan campur beda gereja telah diatur dalam Katekismus Gereja Katolik

Kenyataan bahwa kedua mempelai bukan anggota Gereja yang sama, bukan merupakan halangan Perkawinan yang tidak dapat diatasi, kalau mereka berhasil menggabungkan apa saja yang setiap pihak sudah terima dalam persekutuan Gerejanya, dan belajar satu dari yang lain, bagaimana setiap mereka menghayati kesetiaannya kepada Kristus. Tetapi masalah yang berkaitan dengan Perkawinan campur, jangan dianggap remeh. Mereka timbul dari kenyataan bahwa perpecahan umat Kristen belum diatasi. Untuk suami isteri bahayanya, bahwa mereka merasakan nasib sial dari ketidaksatuan umat Kristen dalam pangkuan keluarganya. Perbedaan agama malahan dapat memperberat masalah ini. Pandangan yang berbeda-beda mengenai iman dan juga mengenai Perkawinan, tetapi juga sikap semangat religius yang berbeda-beda, dapat menimbulkan ketegangan dalam Perkawinan, terutama dalam hubungan dengan pendidikan anak-anak. Lalu dapat timbul bahaya untuk menjadi acuh tak acuh terhadap agama.

KGK 1634

Pada dasarnya, pernikahan beda gereja dapat dilaksanakan dengan syarat mendapat izin eksplisit dari otoritas Gereja Katolik (KGK 1635; bdk. KHK 1124).

Baca juga: 15 Janji Bunda Maria Bagi Kamu yang Rajin Berdoa Rosario

Pernikahan Beda Agama

Lalu, bagaimana dengan pernikahan orang katolik dengan yang beda agama?

Ketentuan ini juga sudah diatur dalam Katekismus Gereja Katolik dan Kitab Hukum Kanonik.

Pernikahan beda agama dikatakan tidak sah apabila tidak memenuhi syarat-syarat dibawah ini

1. Pihak katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman serta memberikan janji yang jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja Katolik;

2. Mengenai janji-janji yang harus dibuat oleh pihak katolik itu pihak yang lain hendaknya diberitahu pada waktunya, sedemikian jelas bahwa ia sungguh sadar akan janji dan kewajiban pihak katolik;

3. Kedua pihak hendaknya diajar mengenai tujuan-tujuan dan ciri-ciri hakiki perkawinan, yang tidak boleh dikecualikan oleh seorang pun dari keduanya.

KHK 1125

Ketiga syarat diatas harus dipenuhi oleh seorang Katolik dan calon pasangannya sebelum menikah dengan ritus Gereja Katolik.

Apabila menolak, sesuai KHK 1086 maka sakramen perkawinan tidak dapat diberikan.

Pernikahan yang sah menurut hukum kanonik Gereja adalah dilakukan pada Misa Kudus, karena hubungan semua Sakramen dengan misteri Paska Kristus (bdk. KGK 1621).

Lalu bagaimana jika pernikahan dilakukan diluar Gereja Katolik?

Dalam KHK 1127 § 3 dituliskan:

Dilarang, baik sebelum maupun sesudah perayaan kanonik menurut norma § 1, mengadakan perayaan keagamaan lain bagi perkawinan itu dengan maksud untuk menyatakan atau memperbarui kesepakatan nikah; demikian pula jangan mengadakan perayaan keagamaan, dimana peneguh katolik dan pelayan tidak katolik menanyakan kesepakatan mempelai secara bersama-sama, dengan melakukan ritusnya sendiri-sendiri.

KHK 1127 § 3

Artinya, pernikahan diluar Gereja Katolik dengan salah satu pasangan adalah seorang Katolik dinyatakan tidak sah secara hukum Gereja.

Perkawinan dalam Gereja Katolik menekankan pada persatuan yang utuh antara dua pasangan dengan Kristus sebagai mempelai agung.

Oleh sebab itu, setiap orang yang memberikan dirinya pada Kristus melalui sakramen perkawinan tidak boleh cerai hingga maut memisahkan.

Setelah membaca penjelasan diatas, bagaimana keputusan anda sebagai seorang katolik yang ingin menikah beda agama?

Silakan tinggalkan “jejak” anda di kolom komentar apabila ada pertanyaan atau kesaksian.

5 tanggapan untuk “Apakah Orang Katolik Boleh Menikah Beda Agama?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Mau mendapat konten terbaru dari kami?