Ajaran Gereja Katolik Tentang Pertobatan dan Rekonsiliasi

Gereja Katolik mengenal istilah pertobatan dan rekonsiliasi. Lalu apa sebenarnya pertobatan dan rekonsiliasi dalam Gereja Katolik?

Mari kita simak homili dari Mgr. FX. Hadisumarta, O.Carm

Pengertian Dosa dan Pertobatan (Rekonsiliasi)

Menurut ajaran (katekismus) katolik, dosa pertama-tama adalah pelanggaran kehendak Allah.

Artinya suatu pemutusan hubungan dengan Allah.

Tapi bukan hanya itu!

Tanpa disadari, dosa sekaligus juga merugikan hubungan/relasinya dengan Gereja.

Karena itu penyesalan/pertobatan mengandung pengampunan oleh Allah dan rekonsiliasi dengan Gereja.

Nah, semuanya itu terungkap secara liturgis dalam sakramen pengampunan dan rekonsiliasi.

HANYA ALLAH YANG DAPAT MENGAMPUNI DOSA KITA.

Karena Ia adalah Putera Allah, maka Yesus menyebut diri-Nya “PUTERA MANUSIA MEMPUNYAI KUASA MENGAMPUNI DOSA”, dan dapat melaksanakannya dengan kekuatan ilahi.

Maka Ia berkata:

Dosamu sudah diampuni

bdk. KGK 1441

Kuasa yang diberikan Yesus kepada Petrus ialah untuk “melepaskan” dan “mengikat” suatu ikatan hubungan dengan Allah dan sesama.

Kata-kata mengikat dan melepaskan berarti:

Siapa pun yang akan kamu kucilkan dari persekutuan, maka Allah pun akan mengucilkannya dari persekutuan dengan diriNya; siapa pun yang akan kamu terima kembali dalam persekutuanmu, maka Allah pun akan menerimanya kembali dalam persekutuan dengan diri-Nya.

Anda juga harus baca: Apakah Orang Katolik Boleh Menikah Beda Agama?

Rekonsiliasi dengan Gereja Katolik

Perdamaian dengan Gereja tidak dapat dipisahkan dari perdamaian dengan Allah (KGK no.1445).

Kuasa yang diberikan Yesus kepada Petrus juga diberikan kepada dewan para rasul, di mana Yesus adalah kepalaNya, dan selanjutnya juga kepada para imam.

Sebab Yesus mengadakan sakramen pengampunan guna menolong warga-warga Gereja yang berdosa.

Khususnya bagi mereka, yang sejak permandiannya telah jatuh ke dalam dosa berat, dan karenanya kehilangan rahmat baptisannya dan terluka dalam persekutuannya dengan Gereja (KGK no.1446).

Namun patut diketahui, bahwa mengampuni atau memaafkan dosa atau kesalahan bukanlah sekadar melupakan apa yang telah dilakukan terhadap kita.

Ibaratnya, “Yang sudah terjadi biarlah lewat”!

Bukan hanya itu!

Memaafkan atau mengampuni secara benar berarti, bahwa kita harus mau dan bertekad tetap maju ke depan untuk berkembang.

Sebab bila kita tetap membiarkan diri menyimpan kemarahan atau sakit hati kita, maka kita akan dilumpuhkan oleh kejahatan yang telah kita alami.

Bila sikap tak mau mengampuni atau rasa benci dan dendam dalam hati tetap tersimpan dalam diri kita, kita tidak dapat memaafkan orang lain.

Oleh sebab itu, tidak mau dan/atau tak mampu mengampuni orang lain, maka martabat kemanusiaan kita sebagai citra Allah, Mahapengasih, kehilangan nilainya.

Marilah kita sungguh serius berusaha mau memaafkan/mengampuni.

Kita mohon Tuhan menghilangkan kekerasan dan kebekuan hati kita, agar dapat menemukan kegembiraan karena dapat dan mau memaafkan sesama kita.

Bukan sekadar melupakannya, melainkan sungguh kehendak baik dan tulus untuk mau mengampuni atau memaafkan sesama kita, seperti Allah dalam diri Yesus mengampuni segala dosa kita.

Mengampuni atau memaafkan maka itulah salah satu cara mengikut Yesus dengan benar dan diberkati Tuhan.

Petrus selalu memegang kunci Kerajaan Surga.

Kunci itu diteruskan kepada segenap imam, yang merupakan Dewan Imam yang didirikan Kristus sendiri, untuk membuka jalan untuk bertemu dengan Kristus yang hadir dalam Gereja-Nya.

Catatan tambahan: Harap di ketahui, Bunda Maria TIDAK DAPAT mengampuni dosa-dosa manusia.

Referensi :
Kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta, O.Carm

Sumber 1

3 tanggapan untuk “Ajaran Gereja Katolik Tentang Pertobatan dan Rekonsiliasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error

Mau mendapat konten terbaru dari kami?